4 PILAR PERNIKAHAN
Delapan tahun yang lalu setelah lulus kuliah dari PTIQ Jakarta, kampusnya huffadz Al Qur'an saya merasa ada yang harus dilakukan untuk daerah kami tercinta yaitu Sumenep. Berdirilah komunitas Sumenep Berbagi yang punya impian membantu pemuda Sumenep untuk memaksimalkan potensi diri dan daerahnya. Dari situ saya dipertemukan dengan nya, Nuurul Hidayati Agustin. Kami punya visi yang sama, rasa memiliki yang sama terhadap daerah.
Setelah setahun membangun komunitas itu, saya beranikan diri untuk bertanya langsung kepadanya apakah ada orang yang mendekati nya? Ternyata saya dapatkan jawaban yang saya harapkan, sedang kosong, jomblo. Seketika itu pula saya sampaikan bagaimana kalau sama saya saja. Saya suka bahasa yang terbuka dan to the point. Proses taaruf kami mulai dengan belajar memahami diri masing-masing dan bertukar informasi mulai dari hobi sampai pada hal yang sangat serius yaitu tujuan hidup. Setelah proses taaruf sebulan maka waktunya melakukan istikhoroh yaitu meminta petunjuk pada Yang Maha Kuasa tentang jawaban yang paling tepat. Alhamdulillah jawabannya memang kami harapkan.
Proses selanjutnya adalah saya minta ijin kepadanya untuk mendatangi orang tuanya untuk menyampaikan secara langsung maksud baik kami. Sendiri saya datang dan menyampaikan bahwa saya siap mengambil tanggung jawab penuh atas Nuurul Hidayati Agustin yang sebelumnya bapak dan ibunya pegang. Alhamdulillah gayung bersambut, proses sangat dimudahkan. Saya berani nikah walaupun saat itu pendapatan saya masih di angka 600ribu sebulan. Prinsip saya bahwa niat baik harus disegerakan itu tak tertolak lagi. Tepat 1 Muharram dan 1 Nopember 2013 kami menikah hingga saat ini dikarunai 2 putri, Fakhma Azaria Mufidah dan Amira Silmi Ghaniyah.
Tujuh tahun adalah perjalanan yang singkat jika melihat usia pernikahan orang yang lebih dulu menikah dari kami. Tujuh tahun memberikan pembelajaran yang berharga untuk kami hidup bersama hingga hidup selah mati. Ada satu hal yang selalu saya ingat sampai saat ini, dan hal ini seringkali menyadarkan saya akan kesalahan yang seringkali saya lakukan. Ini pesan mertua saya saat malam itu saya datang sendiri untuk meminta putrinya. Begini beliau berpesan; Titin banyak kurangnya meskipun ada kelebihan nya, saya minta kamu untuk memaklumi kekurangannya. Saya akan ingat selalu pesan itu.
Tujuh tahun juga mengajarkan kami bahwa dalam pernikahan ada 4 pilar yang harus dibangun kokoh agar pernikahan sampai pada tujuannya yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah. Apa 4 pilar itu? Pertama, pernikahan itu azwaj dalam artian pasangan. Pasangan itu bukan sama. Ada kanan ada kiri. Memang tidak sama, tapi itulah gunanya agar saling melengkapi. Ketika ada ungkapan bahwa ternyata kita tidak sama, ya memang itulah fitrahnya. Jika memahami ini maka perbedaan tidak lagi menjadi masalah. Kedua, janji yang kokoh diucapkan ketika akad bahwa kami berdua ingin terus bersama baik fisik maupun psikis. Tidak ada konsep LDR ya, hahaha. Ketiga, saling memperlakukan pasangan dengan baik. Kita tahu bahwa kita berbeda dan perbedaan ini juga terdapat dalam bahasa kasih yang berbeda. Ada lima bahasa kasih yaitu kata-kata penguatan, tindakan melayani, pemberian hadiah, waktu yang berkualitas dan sentuhan fisik. Keempat, musyawarah. Kadang perlu cara berpikir yang berbeda untuk menyelesaikan masalah. Karena itulah diperlukan yang namanya musyawarah atau diskusi.
Saya bahagia bersamanya. Saya banyak salah namun di saat itu pula saya mau berubah memperbaiki kesalahan. Selamat ulang tahun istriku yang ke 33, Ney the only one.
RichAnton
Merubah Pola Pikir, Rasa dan Tindakan #43
Sumenep, 18/8/20

Tidak ada komentar:
Posting Komentar